Beranda / Blog / Keindahan Alami Jambatan Aka di Painan Pesisir Selatan
Jembatan Aka di Painan Pesisir Selatan

Keindahan Alami Jambatan Aka di Painan Pesisir Selatan

JAMBATAN AKA adalah nama salah satu objek wisata alam yang terdapat di Pulut-Pulut, Kecamatan Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Jaraknya dari Kota Padang, kira-kira 80 Km ke arah selatan.

Disebut Jambatan Aka karena di situ terdapat sebuah jambatan (jembatan) yang terbuat dari akar kayu beringin. Kata aka dalam bahasa Minangkabau mengandung dua pengertian; yaitu pertama, aka sebagai padanan dari kata akal, kedua, aka sebagai padanan dari kata akar.

Jembatan yang satu ini memang unik. Tidak sebagaimana biasanya jembatan lain yang terbuat dari besi, kayu atau bambu. Jembatan ini terbuat dari akar pohon beringin yang dijalin sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah jembatan yang dapat dititi oleh manusia. Jambatan Aka menghubungkan dua desa yang berseberangan yakni Desa Pulut-Pulut di sebelah Timur dan Desa Lubuk Silau di sebelah barat.

Jembatan Aka di Painan Pesisir Selatan

Di bawah jembatan mengalir sebuah sungai dengan airnya yang cukup dalam dan deras, bernama Sungai Batang Bayang.

Konon jembatan itu dibuat pertama kali oleh seorang petani dari Desa Pulut-Pulut yang bernama Pakih Sokan sekitar 100 tahun yang lalu. Tidak diketahui secara pasti kapan tahun pembuatannya. Pakih Sokan adalah putra asli di situ, dari suku Tanjuang dan menikah (manyumando) ke dalam Suku Jambak Demikian informasi yang penulis dapat dari Jawanis, penduduk Lubuk Silau pada 23 Mei 2010.

Pada awalnya jembatan ini dibuat dengan tujuan yang sangat sederhana yaitu untuk keperluan para petani dari desa Pulut-Pulut untuk mengerjakan sawah atau ladangnya yang berada di kampung seberang. Kampung seberang itu bernama Lubuak Silau. Cara pembuatannya’ pun sangat sederhana yaitu akar pohon beringin yang terdapat di kedua terpi sungai itu dijalin dan dihubungkan lalu ditopang dengan kawat. Lama kelamaan akar tersebut terus menjadi besar dan kuat sehingga terjadilah sebuah jembatan yang dapat berfungsi sebagai sarana penyeberangan. Dinding jembatan juga terbuat dari akar yang ditopang kawat sebagai tempat pegangan bagi yang meniti. Sampai saat ini besar akar tersebut sudah mencapai sebesar betis, dan masih utuh serta layak sebagai tempat meniti.

Pendiri jembatan mungkin tidak membayangkan sama sekali apa yang pernah ia rintis itu akan termasyhur di suatu saat sebagai obyek wisata. Kemasyhuran Jambatan Aka sebagai salah satu obyek wisata baru bergaum sejak paruh awal dekade 80-an abad 20 M. Secara kebetulan bertepatan dengan gencarnya pencanangan serta promosi kepariwisataaan oleh pemerintah Orde Baru saat itu.

Padahal sebelumnya, jembatan yang unik itu dianggap sebagai hal yang biasa-biasa saja oleh penduduk setempat. Tak ada yang mempedulikannya selain orang-orang yang punya hajat untuk pergi ke desa sebelah yang masih dianggap sebagai desa terisolir itu.

Selain dari sebuah jambatan unik, sebagai objek pokok kunjungan para wisatawan, di sana juga terdapat aliran sungai dengan airnya yang jernih yang dapat dijadikan sebagai tempat mandi-mandi, berenang dan makan-makan atau bersantai-santai. Hamparan batu besar yang terdapat di tengah dan pinggiran sungai serta udaranya yang sejuk dengan pepohonan rindang yang menghijau di lereng bukit sekitar lokasi menambah kenyamanan serta membangkitkan imajinasi para pengunjungnya.

Di sebelah Timur di Desa Pulut-Pulut berdiri sebuah gunung batu yang terjal yang disebut dengan Gunung Jantan. Sementara di sebelah baratnya berdiri pula sebuah gunung dengan pepohonan yang rimbun dan hijau, bernama Gunung Betina. Kedua gunung tersebut seakan-akan menjadi saksi-saksi bisa sekaligus sebagai pengawal bagi tempat wisata tersebut.

Lokasi Jambatan Aka dapat dijangkau dengan mudah karena kendaraan roda empat bisa sampai ke Desa Pulut-Pulut. Dengan masa tempuh sekitar dua setengah jam perjalanan dari Kota Padang para pengunjung sudah sampai ke lokasi yang dituju. Kira-kira 6 Km menjelang Desa Pulut-Pulut terdapat Desa Koto Baru yang terkenal dengan objek wisata alam serta pemandiannya bernama Bayang Sani Indah. Bayang Sani Indah adalah berupa air terjun (sarasah) yang terdiri dari tujuh tingkat.

Tingkat pertama yang agak landai bernama Sarasah Lubuk Batu Peti. Tingkat kedua lebih landai lagi benama Sarasah Lubuk Batu Kabau. Tingkat ketiga yang agak terjal benama Sarasah Iku Kudo yang mirip dengan Lembah Anai. Sedangkan empat tingkat lainnya berada di dalam rimba raya yang jarang terjangkau oleh para pengunjungnya. Kemudian kira-kira 2 Km sebelum Pulut-Pulut terdapat pula sebuah desa bernama Asam Kumbang. Di situ terdapat sebuah pasar yang kegiatannya setiap Kamis sehingga masyarakat sekitar atau masyarakat Bayang pada umumnya menyebutnya dengan Balai Kamih (Pasar Kamis).

Di seberangnya terdapat sebuah desa yang bernama desa Calau terkenal sebagai penghasil buah-buahan seperti manggis, durian dan duku. Desa ini pernah kena musibah galodo (tanah longsor) di awal Ramadhan tahun 2000. Maka bagi para pengunjung jembatan yang kebetulan bertepatan dengan musim buah akan dapat membawa oleh-oleh berupa manggis, durian atau duku yang banyak bertaburan di Balai Kamih, Asam Kumbang itu.

Tentang PT. Navis Wisata Tour & Travel

PT. Navis Wisata Tour & Travel established license No 20/30-01/PM/III/2006 provides comprehensive Inbound tourist services with qualified travel staffs and a team of experienced tour guides. With the support of our regional network, we are able to fullfill all your requirements in planning a One-stop Package or Multi-destination Tour programmed to Sumatra & Beyond.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »